Corona Virus 2019 atau yang lebih kita kenal dengan nama Covid-19. Pandemi virus yang menjadi momok yang menakutkan bagi negara-negara di dunia pada umumnya dan Indonesia pada khususnya. Seperti halnya kejadian-kejadian luar biasa yang berkorelasi dengan isu kesehatan, pandemi Covid-19 ini menimbulkan dampak yang masif terhadap perekonomian dunia. Indonesia pun tidak terlepas dari dampak yang ditimbulkan oleh pandemi Covid-19. Bila pada umumnya kejadian luar biasa yang berdampak ekonomi hanya menghantam beberapa jenis industri tertentu saja, berbeda halnya dengan efek yang ditimbulkan oleh pandemi Covid-19 ini nyaris berdampak ke semua jenis industri yang ada di Indonesia.
Tidak hanya berdampak terhadap perekonomian, perlahan tapi pasti efek yang ditimbulkan juga merubah gaya hidup masyarakat dan konsumen Indonesia. Sebelum pandemi Covid-19 ini merebak, karakter konsumen di Indonesia sedang memasuki periode konsumtif yang lumayan masif. Hal ini ditunjang oleh meningkatnya pendapatan masyarakat ditambah dengan momen Idul Fitri 1441 H yang momennya bertepatan dengan masa pandemi Covid-19. Bisa dipastikan beberapa industri di Indonesia sudah melakukan forecasting bahwa revenue mereka akan meningkat pada tahun 2020 ini khususnya industri yang bergerak di bidang pariwisata, biro perjalanan dan Food & Beverage (F&B).
Namun forecasting tinggal forecasting, karena karakter konsumen di Indonesia khususnya di industri bidang pariwisata, biro perjalanan dan Food & Beverage (F&B) berubah 180 derajat dibandingkan sebelum masa pandemi Covid-19. Yang awalnya konsumen memilih meluangkan waktu untuk makan di kafe atau restoran (dine in), saat pandemi Covid-19 otomatis konsumen tidak memiliki pilihan lain selain berdiam diri di rumah untuk meminimlisir efek penularan virus ini. Juga tamu-tamu wisata baik lokal maupun mancanegara lebih memilih untuk menunda rencana perjalanan wisata mereka, berkaitan dengan isu penularan Covid-19 dan juga isolasi mandiri dari beberapa negara yang terdampak pandemi Covid-19.
Dibalik semua dampak negatif tersebut, industri Food & Beverage masih dapat memodifikasi business plan mereka dengan melakukan shifting strategy dari mode dine in menjadi mode takeaway (delivery) dan frozen food. Shifting strategy ini dapat membantu pelaku usaha Food & Beverage untuk meminimalisir dampak dari perubahan karkater konsumen yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19. Namun shifting strategy ini harus diakui cukup sulit untuk diterapkan pada pelaku usaha pariwisata, jasa transportasi dan perhotelan. Karena produk utama mereka ironisnya merupakan hal yang sangat dihindari oleh masyarakat selama pandemi Covid-19 ini. Sehingga dapat disimpulkan bahwa industri yang paling terdampak masif oleh pandemi Covid-19 ini adalah industri pariwisata.

Kampoeng Kopi Banaran yang bergerak di bidang pariwisata dengan cakupan area di wilayah Provinsi jawa Tengah pun tidak terlepas dari dampak pandemi ini. Hal ini dikarenakan produk utama yang ditawarkan oleh Kampoeng Kopi Banaran adalah Food & Beverage, agrowisata dan perhotelan. Untuk Food & Beverage dampak pandemi ini dapat diminimalisir dengan melakukan shifting strategy. Namun berbeda dengan agrowisata dan perhotelan yang dikelola oleh Kampoeng Kopi Banaran. Khususnya unit agrowisata yang paling terdampak karena harus mengikuti arahan dari pemerintah untuk sepenuhnya tidak diperkenankan menerima pengunjung selama masa pandemi ini.
Salah satu wahana favorit di Kampoeng Kopi Banaran adalah edukasi kopi karena memang kopi adalah komoditas utama yang dijual di Kampoeng Kopi Banaran dengan brand Kopi Banaran. Wahana edukasi kopi ini memang mengumpulkan banyak pengunjung dalam satu edukasi sehingga masuk ke dalam kegiatan yang dihimbau untuk tidak dilakukan karena mengumpulkan banyak massa dalam satu waktu. Maka dari itu Kampoeng Kopi Banaran berusaha mencari shifting strategy untuk bisa dapat tetap menjalankan edukasi kopi dengan tetap menerapkan standar penanganan Covid-19 dan social distancing.


Going Virtual! Ini adalah salah satu shifting strategy yang dapat kami jalankan terkait dengan agrowisata di Kampoeng Kopi Banaran. Edukasi kopi yang kami tawarkan dalam platform virtual ini adalah edukasi budidaya kopi dan edukasi barista. Namun tetap ada sisi minus dari edukasi kopi virtual ini karena pengunjung hanya dimanjakan lewat mata dan telinga, sedangkan dalam dunia agrowisata hampir semua indra yang dimiliki oleh manusia dapat dimaksimalkan saat berada di sebuah tempat agrowisata.
Edisi perdana edukasi kopi virtual Kampoeng Kopi Banaran dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 3 Juni 2020 dengan peserta sejumah 70 orang dari Fakultas Pertanian Jurusan Ilmu Tanah – Universitas Sebelas Maret. Para peserta di edisi perdana ini merupakan dosen dan mahasiswa dari kampus negeri yang berlokasi di Surakarta tersebut. Adapun materi utama yang diminta oleh para peserta adalah “Pengolahan Lahan dan Pengairan”. Adapun pengisi materi dari pihak Kampoeng Kopi Banaran adalah Eko Suprayogi (Kebun Getas) dan Benefito Zaluchu (Asisten Manajer Marketing Kampoeng Kopi Banaran). Edisi perdana ini dibuka oleh Bpk. Budi Reing Wirawan (Manajer Kampoeng Kopi Banaran) lalu dilanjutkan dengan pemateri.

Feedback yang dapat kami ambil dari edisi perdana edukasi virtual ini adalah dari banyaknya pertanyaan dari peserta dan bobot pertanyaan tersebut. Dari sisi jumlah pertanyaan masih lebih sedikit dari edukasi langsung dan bobot pertanyaan dari peserta masih terlalu general. Hal ini dapat kami maklumi karena mereka hanya bisa melihat dari layar gadget mereka dan tidak dapat melihat atau menyentuh langsung objek edukasi kopi tersebut sehingga kurang dapat menstimulus pertanyaan dari para peserta khususnya dari para mahasiswa.
Tapi ini dapat menjadi masukan penting bagi kami Kampoeng Kopi Banaran untuk terus berbenah dalam beradaptasi dengan karakter konsumen yang berubah sejak pandemi ini terjadi. Semangat untuk beradaptasi ini memang harus tetap kami gelorakan karena walaupun kita belum tahu sampai kapan pandemi ini akan berakhir tapi satu yang sudah pasti, bahwa masyarakat Indonesia dan konsumen Indonesia sedang memasuki babak baru yaitu The New Normal sehingga kami dan para pelaku usaha lainnya pun harus bisa menciptakan business process yang dapat mengakomodir The New Normal tersebut.

Salam Pariwisata!

(author: Benefito Zaluchu SP., MBA)